Cerita Dewasa Kuhamili Ibuku Sendiri

Diposting pada

Cerita Dewasa Kuhamili Ibuku Sendiri – Anak tiriku Thomas baru saja selesai di-diagnosa atas ketidak-seimbangan hormonal yang dialami tubuhnya yang menyebabkan badan anak kecil itu selalu merasa nyeri yang teramat sangat. Ini dikarenakan dengan adanya ketidak-seimbangan hormonal itu menyebabkan penisnya selalu ereksi setiap saat. Thomas sendiri merasa malu untuk memberitahu kepada orang-orang bahkan juga padaku, ayah tirinya, perihal ketidak-nyamanan yang dialaminya.

Cerita Dewasa Kuhamili Ibuku Sendiri
Cerita Dewasa Kuhamili Ibuku Sendiri

 

Cerita Dewasa Kuhamili Ibuku Sendiri – Padahal aku sangat sayang dan mencintainya layaknya anak kandungku sendiri. Sebenarnya kami (aku dan Thomas) cukup akrab sehari-harinya, tapi… tidak untuk kasus yang sedang dialaminya! Thomas adalah seorang anak yang baik, cerdas tapi… sangat pemalu.

Cerita Dewasa Kuhamili Ibuku Sendiri – Karena rasa sakitnya itulah, akhirnya Glena, ibu kandungnya Thomas membawanya ke dokter spesialis anak-anak. Saat giliran periksanya tiba, sang dokter spesialis anak itu memandang wajah Thomas sekilas lalu menoleh ke Glena dengan mengangkat sedikit keatas bahunya, mempersilahkan Glena duduk menunggu di bangku terdekat. Dokter itu dan Thomas lalu masuk keruang kecil yang dihalangi dengan korden yang biasa ada pada setiap tempat praktek dokter pada umumnya. Tidak terlalu lama Glena menunggu, sekitar 10 menitan berlalu mereka sudah keluar dari ruang periksa itu.
Dokter itu memberi resep obat, katanya bahwa obat itu akan sedikit mengurangi rasa sakitnya yang disebabkan kasus penyakit yang dialami Thomas itu. Dokter itu juga memberitahu Glena bahwasanya obat itu sedikit bahkan mungkin tidak ada pengaruhnya samasekali terhadap ereksinya penis Thomas. Dijelaskan selanjutnya oleh dokter itu bahwa penis besar milik Thomas yang selalu ereksi itu menunjukkan gejala awal dari suatu suatu penyakit (symptom of the disorder).

Cerita Dewasa Kuhamili Ibuku Sendiri – Glena mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter itu, tapi tidak cukup jeli mengartikan besarnya penis yang dimaksudkan dokter itu. Pikirnya sederhana saja yaitu pastilah penis seseorang akan menjadi besar saat mengalami ereksi.

Keesokan harinya, Glena melihat kondisi Thomas, sesuai dengan apa yang sudah di-prediksi dokter spesialis anak kemarin, memang obat itu tidak ada efeknya samasekali atas ketidak-nyamanan yang dialami Thomas. Kami (aku dan isteriku Glena) sepakat memeriksakan kondisi tubuh Thomas kembali, kali ini pada seorang dokter praktek umum yang lokasi-nya agak dekat dari rumah kami.

 

Ditempat dokter praktek umum itu, sang dokter malahan mengusulkan solusi yang katanya sederhana saja untuk mengatasi ketidak-nyamanan yang dialami Thomas. Katanya dengan nada yakin tapi santai, kalau penis Thomas mengalami ereksi, ajarkan saja Thomas cara untuk… ber-masturbasi! Kata dokter itu selanjutnya, “Beres sudah…! Karena dengan ber-masturbasi itu maka muatan sperma yang berlebih pada kantung buah pelir-nya akan berkurang. Penisnya kemudian akan loyo, bukankah ketidak-nyamanan yang dialami Thomas selalu terjadi pada saat penisnya tegang, bukan?”.

Glena mendengarkan saran dokter itu, pikirnya, ‘Benar juga ya tapi… siapa yang akan menerangkan pada Thomas cara masturbasi yang benar?’.

Sesampainya dirumah, Glena mengajakku berbicara empat mata.

Glena berkata padaku dengan ragu bahwa dia bingung menerangkan cara masturbasi pada Thomas, anaknya itu dan memintaku agar aku saja yang mengajarkan Thomas cara ber-masturbasi yang benar. Aku yang mendengarkan usulan isteriku menjadi terperanjat, aku menampik dengan halus dan menerangkan padanya bahwa sebenarnya Thomas lebih dekat padanya ketimbang padaku apalagi dalam urusan yang sifatnya sangat pribadi, ceritasexterbaru.net bukankah kami relatif belum lama menikah? Baru kurang setahun saja umur pernikahan kami ini. Glena memakluminya, akhirnya dia menarik napas panjang dengan pasrah menanggapinya.

“Eeehm… yaaa… akan kucoba semampuku…” lalu berlalu dari hadapanku.

Suatu malam, tatkala Thomas telah berada didalam kamar tidurnya.
Glena datang mendekati pintu kamar tidur Thomas dan mengetuk pelan pintu itu.

Aku, ayah tirinya menjadi tertarik tanpa sebab, dengan mengendap-endap aku menguping pembicaraan antara ibu dan anaknya itu.

Glena berbicara lembut tapi agak gugup seperti apa kudengar saat itu. Dia melakukan juga dengan berat hati, apa yang disarankan oleh dokter praktek umum beberapa hari sebelumnya.

Dia bertanya dengan lembut perihal ‘problem’ anaknya itu.

Yang dijawab dengan kesal oleh Thomas,

“Iya… mam. Ini sekarang mulai terasa lagi ‘sakit’-nya…! Aku sudah tidak suka meminum obat itu lagi… membuat perutku menjadi… sangat mual!”.

Glena menjadi iba hatinya melihat kondisi anaknya lalu menceritakan apa yang diusulkan oleh dokter praktek umum mengenai masturbasi. “Apa kau tahu nak… apa arti masturbasi itu?”, kata Glena dengan lembut dan berhati-hati.

“Apa pula itu… mam? Artinya… apa itu, mam?”, Thomas menanggapi pertanyaan ibunya dengan was-was.

Glena menjawab dengan lembut,

“Uuuh… mmmh… sebenarnya mama sudah meminta papamu… baiklah begini… masturbasi adalah kata lain yang artinya upaya merangsang penismu sendiri dengan tanganmu… yaitu menggenggamkan tanganmu pada… eeehm… maksud mama adalah menggenggam batang penismu yang sudah keras itu… dan mengusap-usapkannya keatas dan kebawah… oh tidak… maksud mama… mengocoknya pelan dan… makin lama… makin…”.

Kudengar Glena berusaha keras untuk menyelesaikan kata-katanya.

Tampak wajah Thomas malah tambah bingung jadinya, dengan sabar dia menunggu penjelasan ibunya selanjutnya. Baginya yang terpenting dia terbebas dari ‘siksaan’ yang dialaminya, pikirnya adalah tidak terlalu penting dia harus begini atau begitu…

Glena meneruskan kalimatnya

“Semakin… cepat kocokan pada penismu sampai kau merasakankan… pada penismu… oh salah… maksud mama… sampai kau merasakan pikiranmu nyaman… maksud mama… enak sekali… dan kemudian penismu ber-eyakulasi… aaah… ya begitulah…”. Glena merasa lega telah menuntaskan kalimatnya yang sempat terputus tadi.

Thomas hanya bengong saja kelihatannya, berusaha mencernakan apa yang dikatakan ibunya barusan.

Glena malah jadi khawatir melihat mimik wajah anaknya itu. baru saja dia ingin menjelaskan lagi secara perlahan, tiba-tiba datang satu pertanyaan dari Thomas.

“Ejakulasi… itu artinya apa ya mam? Kok susah-susah sekali ya… istilahnya…”, tanya Thomas dengan muka lugu.

Glena menjadi lega dengan pertanyaan Thomas, berarti Thomas bisa menanggapi kalimat yang diucap Glena tadi. Thomas memang anak yang cerdas… dengan lancar Glena menjelaskannya,

“Ejakulasi adalah keluarnya… sejenis cairan yang berwarna putih pekat seperti shampo atau lotion… dari ujung penismu, mama pastikan penismu akan mengecil lagi dan kemudian kamu akan dapat beristirahat tidur dengan tenang memulihkan energi-mu kembali tapi… jangan lupa membersihkan cairan itu dengan handuk kecil… nanti mama sediakan dan menaruhnya didekatmu…”.

Thomas menjawabnya segera,

“Aku akan mencobanya sekarang…!”.

Sementara itu aku buru-buru kembali kekamar dan berbaring diatas tempat tidur, tentu saja dengan memegang buku bacaanku.

Tak lama Glena masuk kekamar kami, dengan panik dia berkata padaku,

“Uuuh… OMG…! Aku telah melakukannya…! Mengajarkan cara bermasturbasi… pada anakku sendiri… oooh… ibu macam apa aku ini!”. Glena melemparkan tubuhnya berbaring disampingku sembari tersedu.

Kataku,

“Sudahlah, bukankah itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai orangtuanya? Daripada kita melihat anak kita tersiksa sepanjang hari…”.

Glena menjawab lemah sembari menguap,

“Hooo… aaahem… benar juga katamu… Thomas anak yang cerdas tentu dia bisa melakukannya dengan benar… hooo… aaahem…”.

Glena sudah tertidur pulas. Rupanya perbincangannya dengan anaknya, Thomas itu menguras cukup banyak energinya…

Pada keesokan harinya sebelum Thomas beranjak untuk tidur, dia berterus-terang pada ibunya. Katanya dia sudah berusaha untuk ber-masturbasi tapi tidak berlangsung dengan baik. Segala upaya dia mencoba tapi tidak ada setetes pun cairan yang keluar dari dari ujung penisnya, seperti yang diterangkan ibunya kemarin malamnya.

Glena menemuiku dan memberitahukan padaku apa yang telah terjadi pada Thomas, anak kami itu.

Kataku pada Glena,

“Jujur saja sayang… aku tidak tahu apa yang aku dapat katakan padamu sekarang… barangkali kamu dapat menjelaskannya sekali lagi padanya atau… memberikannya sebotol baby-oil… mungkin?”.

Glena rupanya menyetujui saranku, bergegas dia kekamar mandi untuk mengambil sebotol baby-oil yang kumaksud. Lalu segera menuju kamar Thomas seperti apa yang dilakukannya pada kemarin malamnya.

Sedangkan aku seperti halnya dengan kemarin malam, sudah bercokol didekat pintu kamar Thomas untuk ‘memantau’ keadaan.

Kudengar Glena berkata pada Thomas,

“Ini… nak, pakailah sedikit minyak ini. Balurkan pada kedua belah telapak tanganmu sebelum kamu masturbasi malam ini…”.

Thomas menjawab sambil lalu acuh tak acuh, rupanya dia tidak tertarik sama sekali,

“Aku rasa itu tidak akan banyak membantu, mam”. Hening sejenak, tiba-tiba terdengar lagi suara Thomas,
“Mam… bisakah mama… memperlihatkan pada Thomas… bagaimana… caranya…?”.

Terdiam sejenak, Glena menarik napas panjang, lalu berkata,

“Mama rasa… OK… bisa”.

Segera dengan nekat dan menahan malu Thomas menarik selimut yang menutupi tubuhnya sehingga Glena dapat melihat bahwa anaknya itu hanya memakai celana dalam saja… Ereksi yang sudah berlangsung lama sedari tadi dari penis Thomas membentuk kerucut bagaikan kemah kecil saja layaknya. Terkesiap Glena melihat itu dengan takjub, jadi teringat dia akan kata-kata dokter spesialis anak padanya beberapa hari yang lalu, rupanya ini yang dimaksudkan dokter spesialis anak itu dengan perkataannya ‘penis besar milik Thomas yang selalu ereksi’.

‘Bodohnya aku… tidak serius menyimak perkataannya… aku salah menafsirkan perkataannya…!’, maki Glena pada dirinya sendiri sembari tetap memperhatikan Thomas, anaknya itu.

Thomas sudah melepas CD-nya… Seketika Glena menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya. ‘OMG…!’, jerit Glena dalam hatinya. Sungguh suatu hal hampir tidak bisa diterima akalnya, bagaimana mungkin bisa terjadi?! Thomas yang baru berusia 10 tahun lebih 2 bulan itu memiliki penis sepanjang 25 cm! Penis panjang dan besar itu berayun-ayun seirama detak jantung Thomas, palkon-nya dilihat Glena sungguh besar sekali.

“Eeehem…!”, Glena membersihkan tenggorokannya dahulu.

Dengan berusaha keras untuk tetap tenang, Glena memulai obrolan dengan anaknya, Thomas. “Coba perlihatkan pada mama bagaimana… kamu melakukannya…?”.

Dengan tenang Thomas menggenggamkan tangan-tangan kecilnya melingkari batang penis besar itu pada pangkalnya lalu mengocoknya perlahan.

“Lihat! Itu tidak bekerja sama sekali… bukan?”, kata Thomas frustrasi.
“Barangkali kamu harus melakukan dari ujung penis dan menurun sampai pangkal… penismu, barangkali dengan sedikit lebih pelan mengocoknya…”, kata ibunya gemetar.

Glena terpesona oleh ukuran besar penis anaknya dengan… buah pelirnya serasi besarnya. Glena merasa tangannya secara refleks mendekat… tapi segera menyadarinya dengan menarik tangannya kembali buru-buru. Memang sebenarnya Glena suka sekali melakukan HJ (Hand Job) terhadapku yang menjadi suaminya. Sekilas tadi kelihatannya Glena terlena dan lupa diri sesaat.

“Tidak mam… mama yang melakukannya… untukku…”, komentar anaknya dengan skeptis. Katanya lagi pada ibunya, “Bukankah mama ingin membantuku…? Aku akan melakukan apa saja… untuk menghentikan ‘sakit’-ku ini…!”.

Glena dengan sungkan dia mengulurkan tangannya dan… menggenggam penis anaknya itu, seraya berkata,

“Apa kamu… OK begini, nak…?”, tanya Glena.
“Oh… iya mam, rasanya lebih baik dari tanganku sendiri… tangan mama begitu halus… dan hangat… dibandingkan tanganku…”, Thomas seketika merasa relaks dan merebahkan kepalanya pada bantal kembali, memperhatikan tangan ibunya yang mulai mengocok penisnya perlahan.
“Kamu tahu…”, kata Glena sembari tetap mengocok-ngocok penis anaknya.
“Kamu harus membayangkan tubuh telanjang seorang cewek… itu akan membantumu cepat… ejakulasi”.
“Aku tak tahu mam… kurasa cara ini akan… berhasil”, jawab Thomas yang napasnya mulai tersengal-sengal akibat rangsangan pada penisnya, dia memejamkan matanya, agaknya dia menikmati sekali rangsangan ini.

Glena lebih mendekat lagi dengan tubuh anaknya, dengan begitu dia dapat lebih keras dan cepat mengocok penis Thomas. Ini sudah berlangsung selama 5 menitan dan tangan Glena mulai merasa pegal.

“Nak… cobalah berusaha membayangkan tubuh seorang cewek yang telanjang… penismu sebenarnya diperuntukan untuk cewek…”, kata Glena yang napasnya ikut-ikutan megap-megap sama halnya dengan anaknya.
“Maksud mama… apa?”, Thomas menanggapi kata terakhir dari sang ibu.
“Iiiya… nak, penismu ini oleh Yang Maha Pencipta sudah merancangnya untuk memasuki vagina seorang cewek dan… membantunya bisa… hamil dan membuat seorang anak bayi baru…”, terlepas juga perkataan itu dari mulut Glena yang bergidik oleh ucapannya sendiri itu.

Dia sungguh merasa nyaman dengan keadaan mereka berdua sekarang. “Andainya kamu membayangkan penismu memasuki vagina dari seorang cewek… mama rasa… dapat membantumu untuk cepat… ber-ejakulasi…”.

“OK, aku akan mencobanya…”, kata Thomas ragu.
“Aku sebenarnya belum pernah melihatnya… tubuh seorang cewek telanjang sesungguhnya! Memang sih pernah melihat gambar cewek telanjang di majalah…”, kata Thomas mengaku pada ibunya.

Kelihatannya usahanya belum berhasil mencapai target… membuat Thomas ejakulasi, tapi Glena tak akan berhenti berusaha… untuk menolong anak semata wayangnya yang tersayang…

“Setidaknya mama masih ada satu cara…. yang ampuh mama pikir… tapi… apakah perlu mama melakukannya…?”, Glena menggeliatkan badannya tanpa sadar.

Puting buahdadanya menonjol mendesak gaun malamnya yang tipis memang Glena kalau dirumah tidak pernah memakai BH, tak pelak lagi keberadaan bersama anaknya itu mempunyai efek padanya. Sedang tangan Glena masih tetap mengocok-ngocok penis anaknya mulai berasa sangat pegal. Genggaman tangannya pada batang penis yang besar itu sudah tidak sekeras awalnya.

“Mam… aku tak perduli… apapun yang ingin mama perbuat… aku senang… mama mencoba membantuku…”.

Belum juga tuntas omongan Thomas… Glena menunduk dan langsung memasukkan palkon Thomas kedalam mulutnya, menjilat dan mengenyot pelan palkon anaknya itu. Kelihatan sekali Glena sungguh menikmati apa yang sedang dilakukannya itu, dia gemar melakukan BJ (Blow Job)… juga padaku dalam kegiatan seks kami. Buahdada Glena yang sebelah kiri tanpa disadarinya telah bebas… lepas dari balutan baju malamnya, putingnya yang sudah mengeras itu
menyapu lembut kulit paha kirinya Thomas… Kepala Glena mulai mengayun naik-turun pas diujung palkon yang masih tegak berdiri, mulutnya hanya mampu memuat setengah dari batang penis Thomas yang panjang.

Thomas semakin merasa nyaman saja, ini pengalaman yang sama sekali baru baginya, sensasi ini membuat napasnya megap-megap keenakan.

“Ahhh… mam… sungguh enak sekali rasanya… please… jangan berhenti… ohhh… mama!”.

Glena melayani keinginan anaknya terus melakukan BJ pertama untuknya dan menggenggam dan mengocok pada setengah bagian batang penis yang tidak bisa masuk mulutnya.

Makin bertambah nikmat saja dirasakan Thomas, napasnya menderu kencang, pinggulnya didorongnya keatas. Glena ikut-ikutan mendesah, dirasakannya batang penis Thomas yang berada didalam mulutnya berdenyut membesar… dia paham tak lama lagi, pasti… Thomas eyakulasi!

Tiba-tiba Thomas menggerung kencang

“Ohhh…! Mama…!”. Seketika itu juga air maninya menyemprot keluar… membanjiri mulut ibunya.

Terteguk air mani anaknya, Glena juga sengaja menyedot dan… tetap saja kepalanya turun-naik pada batang penis Thomas yang besar sementara tangannya tidak henti-hentinya mengocok.

Sungguh satu adegan erotis apa yang kulihat lewat bukaan sedikit pintu kamar Thomas, tak luput dari ‘pantauan’-ku barang sedetik pun!

Glena menelan semua mani yang ada didalam mulutnya, orgasme yang dialami Thomas mereda.

“Mam… itu rasanya lebih baik… aneh sekali tapi… sungguh enakkk sekaliii…! Aku merasa terlena… atau… apa ituuu… aku rasa ada sesuatu yang keluar dari penisku… apa itu… cairan putih… yang mama maksud?”, celoteh Thomas.
“Ya…”, kata ibunya.
“Itu peju… maksud mama itu spermamu, mama menelan semuanya… agar tidak berceceran kemana-mana mengotor tempat tidurmu…”, Glena mengangguk, getaran anggukan ketika BJ masih saja terasa olehnya.
“Kamu merasa nyaman sekarang?”, tanya Glena pada anaknya.
“Ya”, jawab Thomas sambil melihat kearah bawah, dilihatnya penisnya sudah agak melunak tinggal setengah ereksi. “Kupikir… ya kupikir sekarang… kurasa lebih baik… terima kasih mam”.

Glena berdiri, membenahi gaun malam yang tadi terbuka, berusaha menenangkan dirinya sesaat dan akan keluar dari kamar Thomas.

Aku bergegas kembali kekamar, seperti biasa… berbaring sambil memegang buku bacaan.

Glena masuk kamar kami dan naik ketempat tidur tanpa bicara, lalu menyelinap masuk kedalam selimut. Tubuhnya yang hangat merapat padaku, napasnya yang masih memburu masih bisa kudengar… rupanya isteriku ini masih terpengaruh oleh suasana dikamar Thomas tadi. Agaknya dia merasa sangat bergairah dan bernafsu… mulai bermain dengan penisku. Aku yang tadi ‘memantau’ keadaan ikut-ikutan jadi bergairah. Tidak perlu waktu yang lama, penisku menjadi ngaceng berdiri bahkan kurasakan penisku sangat keras… lebih keras dari hari-hari sebelumnya.

Tahu penisku sudah ‘siap’, dengan cepat Glena menanggalkan gaun malam berikut CD-nya sekalian. Bertelanjang bulat, disingkapnya selimut kesamping dan menarik cepat celana komprangku beserta CD-ku. Dengan sigap naik keatas tubuhku, mengangkangi aku dan memegang penisku yang langsung dilesakkan kedalam memeknya yang sudah basah dan licin tak pelak lagi penisku amblas semuanya kedalam lubang memeknya yang berdenyut-denyut kencang.

Cepat Glena mengayun-ayunkan pinggulnya, gaya WOT-nya (Woman On Top) membawanya cepat pada orgasme-nya sendiri yang menyebabkan tubuhnya rubuh menindih tubuhku. Penisku yang masih tegang masih tetap berada didalam memeknya yang nikmat kurasa karena masih saja berdenyut-denyut. Kudiamkan sesaat lalu kubalikkan tubuh Glena dan… aku berada diatas tubuhnya. Dengan gaya MOT-ku (Man On Top) yang klasik, mengayunkan pinggulku, memompa penisku masuk-keluar memeknya dengan tidak terlalu cepat, aku memang ingin menikmati sekali persetubuhan dengan isteriku yang kucinta ini…

Hari semakin larut malam, tuntas sudah persenggamaan kami. Glena mengalami 3 kali orgasme sebelum aku menyemprotkan spermaku jauh kedalam rahimnya… mudah-mudahan Thomas mendapat adik baru.

Keesokan malam harinya, Thomas, anak kami (aku dan isteriku Glena) itu, datang kekamar tidur kami. Dia langsung mendekat pada ibu kandungnya, dia membisiki sesuatu ke telinga ibunya. Agaknya dia mengalami lagi ereksi hebat pada penis besarnya itu… lalu Thomas bergegas kembali kekamarnya sendiri.

“Maaf sayang…”, kata Glena dengan manja padaku.
“Aku akan akan kembali beberapa menit lagi”.

Selang berapa saat, aku sudah bercokol lagi dekat pintu kamar tidur Thomas. Aku mengendap-endap didekat bukaan sedikit pintu kamar tidur Thomas.

Rupanya Glena bergerak cepat, saat kuintip dia sedang melakukan BJ pada penis besar Thomas, anak kandungnya itu. Kulihat Thomas merem-melek matanya keenakan merasakan ngilu-ngilu nikmat pada penisnya. Sama sekali tak terlihat rasa canggung pada Glena, ini sangat berbeda sekali dengan yang kemarin saat dia memberikan BJ pertama pada Thomas.

Bahkan kulihat dengan jelas sekali, Glena mengusap-usapkan memeknya pada kakinya Thomas, meskipun Glena masih mengenakan gaun malamnya yang agak tipis itu. Terpana aku melihatnya, begitu cepatnya isteriku itu terbuai suasana yang dibuat mereka berdua, ibu dan anak kandungnya sendiri. Tapi hal itu tidak menyebabkan aku naik pitam sama sekali, biarlah itu urusan mereka berdua. Yang terpenting bagiku, ceritasexterbaru.net Thomas tidak selalu tersiksa oleh ‘sakit’-nya itu. Soal perilaku erotis yang dilakukan Glena tadi kurasa cukup manusiawi, maklum saja berada dalam ‘area’ penuh gairah dan birahi liar disana. Toh… pelampiasan pasti padaku juga… Tersentak aku dari lamunanku, segera aku kembali kekamar, berbaring diatas tempat tidurku, biasa… sambil memegang buku bacaanku.

Rutinitas yang Glena lakukan bersama Thomas anaknya itu telah berjalan beberapa minggu dan berlangsung dengan tenang. Tak pernah lagi Glena memberitahuku perihal ‘kegiatan’-nya bersama anaknya itu. Glena dengan ‘sukarela’ (kurasa kata ‘antusias’ lebih tepatnya) menyambangi kamar tidur Thomas tanpa perlu anaknya meminta ‘bantuan’ lagi padanya.

Aku juga selalu bercokol didepan pintu kamar tidur Thomas untuk ‘memantau’, bila mereka tak sengaja membiarkan daun pintu terbuka sedikit, aku bahkan menonton apa yang mereka lakukan berdua didalam sana. Tanpa kusadari aku juga mempunyai rutinitas sendiri yang meng-antisipasi rutinitas yang dilakukan ibu dan anaknya itu.

Seperti biasa segera setelah selesai ‘urusan’-nya dengan anaknya, Glena bergegas kembali kekamar tidur kami. Diatas tempat tidur kami itu habislah aku jadi ‘bulan-bulanan’ sibuk meredakan gairah Glena yang meletup-letup akibat aktivitas BJ dikamar tidur Thomas sesaat sebelumnya. Sampai hari ini aku merasa beruntung selalu keluar sebagai pemenangnya dalam ‘pertarungan’ seks-ku dengan Glena, isteriku yang kucinta.

Satu malam pernah Glena kembali kekamar kami dan tercium olehku aroma sperma. Diam-diam kuperhatikan dengan seksama, ternyata pada rambutnya memang ada bekas-bekas sperma yang sudah diseka, juga pada gaun malamnya. Memang malam itu aku tidak menjalani rutinitas ‘memantau’-ku, rupanya Glena membantu Thomas, anaknya menghilangkan rasa ‘sakit’ itu tidak selalu dengan BJ. Sebab bila menggunakan mulutnya pasti tidak tercium aroma sperma karena telah habis ditelannya semua masuk kedalam perutnya. Aku diam saja, juga aku tak berminat menanyainya. Biarlah itu urusan rahasia mereka berdua.

Kurang lebih sebulan telah berlalu… Kali ini aku meneruskan lagi rutinitas-ku yang telah sebulan lamanya tidak kulakukan.

Seperti biasa segera Glena berada berduaan dengan Thomas, aku telah bercokol lagi didepan pintu kamar tidur Thomas. Kebetulan sekali daun pintunya terbuka sedikit.

Aku menela’ah pintu itu sebentar, kupastikan itu bukan karena sengaja dibuka tapi lebih disebabkan keteledoran dari orang yang menutup pintu itu kembali. Rupanya Glena saat masuk kedalam kamar dan menutup kembali pintu tidak sampai terdengar , langsung saja setelah itu dia mendekati anaknya. Akibatnya tombol berpegas pada sistim kunci pintu itu mendorong kembali daun pintunya membuka sedikit meninggalkan celah yang lebar untukku ‘memantau’ aktivitas yang sedang berlangsung didalam kamar tidur Thomas itu.

Kulihat kedalam, wowww… pemandangan indah! Glena membiarkan bagian atas gaun malamnya terbuka lepas. Payudara semok-nya bebas terlihat oleh Thomas dan… tentunya olehku yang sedang serius mengintip. Sementara Glena tetap sibuk melakukan BJ pada penis besar milik Thomas. Jujur saja aku juga kagum pada ukuran besar penis Thomas itu, pasti itu akibat faktor keturunan dan pengaruh gen pada garis keturunan ayah atau kakeknya… mungkin… aku tidak ahli dalam hal itu… jadi kuteruskan saja ‘memantau’.

Saat melakukan BJ, kulihat Glena berkali-kali berhenti dan memandang wajah Thomas dengan mesra sambil tersenyum. Aku memperhatikan dengan seksama, akhirnya aku menjadi paham, rupanya Glena tidak menginginkan anaknya cepat-cepat eyakulasi. Thomas balik tersenyum pasrah pada ibunya sambil memainkan rambut ibunya dengan dengan lembut. Beberapa kali kulihat terjadi kontak mata diantara mereka. Sudah dapat dipastikan Glena ingin berlama-lama bermesraan dengan anak kandungnya sendiri.

Aku tetap ‘memantau’, kulihat puting buahdada Glena mengeras kuperhatikan kedua puting itu kayaknya lebih mancung kedepan.

Serta pinggulnya diusap-usapkannya pada lutut anaknya yang menekuk keatas.

Sebelah tangan Glena meraba buahdadanya sendiri, kemudian me-remas-remasnya, memberi tontonan gratis untuk anaknya yang melongo melihatnya. Masih tetap melakukan BJ, Glena memilin-milin puting buahdadanya bergantian dari puting yang kiri lalu yang kanan, dari yang kanan kembali yang kiri. Tidak lupa sembari tetap mengusap-usapkan pinggulnya pada lutut anaknya. Disengaja atau tidak, Glena telah memperagakan pada anaknya yang cerdas itu cara merangsang tubuhnya!

Aku jadi sangat bernafsu akibat ulah isteriku itu, dalam hatiku berkata, ‘Awas nanti setelah kita berdua kembali ditempat tidur… aku akan membalas kenakalanmu ini… sayang!’.

Aku buru-buru kembali kekamar, menyiapkan diriku sebaik-baiknya. Meredakan nafsuku yang tadi sempat sampai keubun-ubun dengan membaca buku, jangan sampai aku kalah dalam ‘pertarungan’ seks-ku nanti…

Glena agak lama kembali kekamar kami, tapi seperti biasanya, dengan mudah aku menundukkannya. Glena memulainya dengan nafsu yang berkobar-bokar, hasilnya sudah dapat ditebak, aku mengantarkannya pada orgame-nya berkali-kali sampai aku sendiri membanjiri rahim dengan sperma-ku yang tumben kurasa banyak sekali malam itu.

Keesokan malam harinya, dengan melangkah berjinjit perlahan takut menimbulkan suara, aku sudah berada didepan pintu kamar tidur Thomas. Kuperhatikan dengan seksama, terdengar dengus napas Glena berat, kok… tidak seperi biasanya?! Aku mengintipnya lewat celah bukaan daun pintu kamar itu, tumben agak diredupkan nyala lampu didalam kamar itu… ada apa gerangan? Konsen dan menfokuskan mataku dan melihat… ‘OMG…!’.

Kulihat Thomas duduk mengangkang diatas tubuh ibunya dan membiarkan penis besarnya dijepit ditengah-tengah buahdada ibunya yang semok itu. Thomas memaju-mundurkan pinggulnya, yang menyebabkan penisnya yang besar dan panjang itu bergerak kedepan dan kebelakang sembari dijepit oleh bongkahan kenyal buahdada ibunya. Ketika Thomas mendorong pinggulnya kedepan, palkonnya yang nonggol dari himpitan buahdada ibunya langsung disambut dengan sergapan mulut ibunya

Kurasa ini juga salah satu bentuk BJ! Tak mungkin Thomas yang masih muda belia itu mempunyai ide semacam itu, pasti ide ini datang dari ibunya sendiri. Tak kusangka Glena, isteriku itu bisa mempunyai ide liar yang eksotis semacam itu!

Nafsu birahiku seketika membubung tinggi melewati ubun-ubunku sendiri… sudah tak dapat kutahan lagi… kukeluarkan penisku yang sudah ngaceng berat dan mulai masturbasi ditempat, tidak memerlukan waktu lama… kusemprotkan maniku ke tembok yang terdekat. Ahhh… lega, hilang mumetku sekejap. Aku mulai lagi ‘memantau’ keadaan didalam kamr itu.

Wahhh… adegan yang berlangsung sedang hot hot-nya, gerakan pinggul Thomas maju-mundur dengan sangat cepat, sekali-sekali kudengar suara Glena yang tersedak disumpal oleh palkon anaknya yang besar. Tiba-tiba tersentak-sentak gerakan pinggul Thomas dan… langsung penis besar Thomas menyemprotkan maninya ke muka ibunya malah ada yang mengenai mata kiri ibunya. Langsung mereka tertawa mengikik senang.

“Ssst…!”, Glena memberi kode pada anaknya agar jangan terlalu bising.

Sehingga tidak ada suara yang dapat kudengar. Kulihat sekilas kedalam kamar itu lagi, tubuh ibu dan anak terkapar lemas. Glena tetap dengan posisi-nya yang terlentang, sedang Thomas berbaring menelungkup diatas tubuh ibunya, kelihatan napas mereka masih megap-megap…

Baca Juga Cerita Sex Nafsu Birahi

Buru-buru aku kembali kekamar, berbaring diatas tempat tidurku, biasa… sambil memegang buku bacaanku.

Kulihat Glena kembali, langsung masuk kekamar mandi yang ada didalam kamar kami, membersihkan tubuhnya akibat aktivitas seks-nya dengan anaknya sendiri. Tak lama kemudian Glena selesai dan langsung naik keatas tempat tidur kami. Masih tercium olehku aroma sperma pada wajahnya.

Aku tidak mau merusak suasana malam yang tenang, dengan bertanya pada Glena mengenai apa saja diperbuatnya didalam kamar Thomas, anaknya itu. Justru Glena yang memberitahuku bahwa dia perlu memastikan agar Thomas bisa melakukan masturbasi-nya dengan benar.

“Bukankah begitu… sesuai apa yang disarankan dokter”, kata Glena berdusta padaku.

Aku tersenyum saja menanggapi perkataannya, yang sama sekali tidak diketahuinya bahwa aku memperhatikannya setiap aktivitas-nya bersama anaknya… memberi BJ pada anaknya dalam berbagai gaya… setiap harinya…!

Setelah lewat beberapa minggu selanjutnya aku memperhatikan bahwa Glena agak sedikit berbeda keadaannya bila berduaan dengan Thomas, anaknya itu. Kelihatan Glena senang sekali menyaksikan anaknya masturbasi dan menyemprotkan air maninya pada tubuhnya sendiri atau pada muka dan buahdada ibunya. Glena mulai berani menelanjangi dirinya dan hanya memakai CD-nya saja. Aku mulai melihat wataknya yang terpendam yaitu sebagai seorang exhibitionist (orang yang suka memamerkan sebagian atau seluruh tubuhnya yang telanjang).

Sedangkan Thomas kelihatannya merasakan nyaman dan senang saja menghadapi situasi semacam itu. Kerap kulihat tangan Thomas meremas-remas buahdada ibunya atau bahkan mengisap puting-putingnya setelah dia berhasil eyakulasi pada tubuh ibunya sendiri.

Kejadian-kejadian yang berlangsung dalam kamar tidur Thomas itu agaknya semakin erotis saja seiring dengan beberapa minggu kemudian telah berlalu. Glena sudah membiasakan dirinya melepas total gaun malamnya begitu dia berada didalam kamar tidur anaknya itu.

Pernah pada suatu malam saat kebetulan aku ‘memantau’ didepan pintu kamar anaknya itu. Kulihat Thomas berbaring terlentang diatas tempat tidur dan… sudah ada Glena yang berjongkok mengangkang diatas tubuh anaknya sibuk… menekan-nekankan memeknya yang masih terbalut CD-nya itu pada penis besar anaknya yang sedang ber-ereksi hebat sembari mengusap-usapkan tangannya pada dada anaknya. Terlihat sekilas seakan-akan mereka sedang… bersebadan saja layaknya. Aku jadi melongo melihatnya.

“Mam…! Mama kelihatan… basah semua dibawah sana…! Celana dalam mama… basah kuyup…!”, kata Thomas sekonyong-konyong, memelototi CD ibunya, sementara itu Glena masih saja sibuk mengusap dan menekan-nekankan memeknya pada penis anaknya.
“Mama tahu… nak. Begitulah yang terjadi pada wanita umumnya bila bagian itu tersentuh… atau disentuh…”, jawab Glena tenang saja menanggapi perkataan anaknya.
“Kenapa begitu mam…?”, tanya Thomas yang kepingin tahu.
“Hal itu akan membantu sekali… bila mama menginginkan… misalnya penis papamu… untuk masuk kedalam sana… memudahkan penisnya itu menerobos masuk kedalam… vagina mama… karena sudah licin…”.

Aku yang ikut mendengarkannya mengernyit dahiku, aku paham kemana arah situasi yang dikehendaki Glena jadinya.

“Wahhh… itu pasti enak rasanya… ya mam?”, komentar anaknya polos.
“Aku tidak pernah melihat mama… telanjang bulat… apa mama mau melepaskan celana dalam mama yang sudah basah kuyup itu…?”.

“Ya… bagaimana ya… kamu seharusnya tidak boleh melihat tubuh mama-mu sendiri… telanjang bulat… sedemikian…”, jawab Glena bimbang. Diam sejenak berpikir, akhirnya Glena berkata pada anaknya,
“Ya… mama pikir… tidak ada pihak yang dirugikan, mama rasa… apalagi mama telah 3 bulan lamanya melihatmu… selalu… telanjang… dan melakukan BJ untukmu…”, plong rasanya hati Glena setelah mengucapkan kata-kata itu.

Sekujur tubuhnya seakan dipenuhi oleh rasa gairah yang terus… terus berkembang bertambah besar saja… setelah hari-hari sebelumnya menahan gelora gairahnya dengan susah payah.

Dengan tegar dan mantap Glena cepat berdiri… melucuti sendiri CD katunnya… dan berkata,Cerita Sex Terbaru

“Apa yang kau pikirkan… sekarang, nak?”. Glena yang sudah lupa diri… yang dipengaruhi oleh gelombang gairahnya sendiri… bertanya pada Thomas, putera kandungnya itu dengan penuh birahi.

Spontan Thomas yang sedang memelototi bagian tubuh ibunya sangat pribadi itu… tempat dimana dia pernah sekali melaluinya dengan sekujur tubuh yang utuh… berteriak dengan antusias tinggi,

“Wowww…!! Mama cantik sekali… kalau telanjang bulat…!!”.
“Ssst… jangan kencang-kencang… nanti papamu terbangun dari tidurnya…”, kata Glena pelan setengah berbisik mengingatkan anaknya.

Refleks Thomas menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang kecil sambil berkata pelan. “Upsss… maaf mam…”.

Glena kembali keatas tubuh telanjang anaknya lagi dan memegang batang penis besar anaknya yang ber-ereksi lebih hebat lagi… cairan pelicin yang keluar dari ujung palkon-nya bertambah banyak saja lalu digosok-gosokkan pada memeknya, batang penis besar itu mengenai clitoris-nya yang sudah mulai membengkak, tergesek-gesek oleh batang penis anaknya. Sementara kedua belah tangan Glena dengan gencarnya mengocok-ngocok cepat batang penis panjang milik anaknya itu sampai pada palkon-nya kembali kebawah, Glena melakukannya berulang-ulang makin cepat dengan penuh semangat.

Mereka berdua napasnya sudah terengah-engah, keringat mereka telah mengalir membasahi sekujur badan mereka berdua. Mereka melampiaskan nafsu liarnya dengan melakukan masturbasi ala gaya mereka sendiri. Rasa nikmat mengguyur seantero tubuh mereka…

Merasa sudah tidak tahan lagi, Thomas sudah bangkit duduk, segera meraih bagian belakang kedua paha ibunya dan mencoba menarik ibumu mendekat lagi, rupanya Thomas berusaha agar penis menerobos masuk memek ibunya…!

Glena sadar apa yang diinginkan anaknya itu,

“Woooah… pria cilikku…! Kita tidak boleh melakukannya…!. Segera dia menarik mundur pinggulnya dengan sigap dan lebih fokus mengocok penis besar anaknya dengan kedua belah telapak tangannya lebih cepat lagi.

Tubuh Thomas terhempas lagi kebelakang saking dia merasakan terpaan rasa nikmat yang menerjang kencang tubuhnya, menyebabkan dia kembali terlentang seperti sesaat sebelumnya.

Tidak perlu waktu lama Glena menunggu anaknya ber-eyakulasi, sesaat kemudian… menyemprot sudah air mani Thomas keatas bagaikan semprotan air mancur di taman… jatuh lagi kebawah menyirami sekujur tubuhnya sendiri…

Diam sesaat, yang terdengar hanyalah napas-napas yang masih megap-megap diiringi degup kencang jantung yang berdetak…

“Mam…! Wowww… rasanya… hebat sekali…! Aku harap… mama mau lagi melakukannya lagi… secepatnya…”.

Glena setelah normal kembali kondisinya, berpikir dan mengakui pada dirinya sendiri bahwa hal yang barusan terjadi agak kelewatan, katanya pelan, “Lain kali… mungkin… kita harus lebih berhati-hati…”.

Malam berikutnya, Glena tidak menyambangi anaknya.
Tampaknya Glena sudah lebih tenang untuk beberapa hari kedepan.

Selang beberapa hari berikutnya, saat aku pulang dari kantor dan sudah tiba dirumah. Aku melihat beberapa kantong yang tertinggal di meja dapur. Iseng aku melihat apa saja isi kantong-kantong itu. Perhatianku tertuju pada satu kotak kecil yang berwarna merah metalik. Kulihat dengan seksama, bukankah itu… sekotak yang berisi… kondom! Heran aku melihatnys, aku berpikir sejenak. Bukankah aku dan Glena sudah bersepakat untuk memberi adik baru secepatnya pada Thomas yang telah berusia 10 tahun lebih itu? Jadi… apakah gunanya kondom itu?

Berpikir tadi tentang adik baru untuk Thomas… ya… Thomas, terpekur aku sejenak, jangan-jangan… ohhh… untuk siapa lagi kondom itu dibeli…?

Mengingat-ingat kejadian-kejadian sebelumnya, terbayang-terbayang di benakku pada malam saat aku ‘memantau’ beberapa malam yang belum lama itu berselang. Saat Thomas ingin menyetubuhi ibunya sendiri.

Aku mengambil kesimpulan, rupanya Glena ingin memuaskan rasa keingin-tahuan yang besar dari anaknya semata wayang yang disayang itu tanpa resiko dihamili oleh anaknya sendiri maka dari itulah sekotak kondom itu dibeli.

Aku masih saja diam berdiri di dapur itu sambil berpikir-pikir… terbersit sekilas di benakku. Ehhh… ngomong-ngomong soal… besar…!

Aku jadi tersenyum akhirnya… rupanya sekotak kondom itu dibeli untuk 2 tujuan sekaligus…!

Yaaa… Glena juga ingin menuntaskan keingin-tahuan bagaimana rasanya melakukan ML dengan seseorang yang memiliki penis sepanjang 25 cm! Yang kebetulan milik putera kandungnya sendiri!

Terbayang-bayang sudah didalam benakku yang ngeres ini, adegan-adegan erotis yang segera akan bisa kutonton ‘live’! Didalam kamar tidur Thomas nanti… mungkinkah nanti malam…?

Tak sabar aku menuggu saat itu tiba!

Di ufuk Barat, matahari telah tenggelam sejam yang lalu, kami seisi rumah melakukan kegiatan rutinitas malam kami masing-masing.

Aku melihat Glena, isteriku tercinta itu pergi menuju kamar tidur Thomas, anak lelakinya, untuk ‘checking’ keadaan Thomas, mematuhi saran dokter seperti apa yang diutarakannya padaku beberapa malam sebelumnya.

Aku menunggu sebentar… sesaat kemudian aku sudah bercokol didepan pintu kamar tidur Thomas, seperti biasa kulakukan dalam rutinitas-ku beberapa malam sebelumnya.

Aku mendengar Glena berbisik perlahan disamping tempat tidur anaknya. Tangan Glena mengusap-usap kaki anaknya dan membelai mesra penis anaknya yang sudah ereksi tapi masih terbalut CD.

Dengan mata heran penuh tanda tanya, Thomas melihat ibunya membuka selembar bungkusan sesuatu lalu mengambil isinya. Kemudian ibunya segera melucuti CD-nya dan melempar CD itu kesudut kamar.

Glena dengan cekatan memegang penis besar anaknya yang keras mengacung keatas yang disebabkan oleh ereksi hebatnya lalu menaruh segulungan kondom diatas palkon anaknya itu, membuka gulungannya itu menyusuri pelan pada permukaan batang penisnya yang panjang, menuju kebawah. Habis sudah gulungannya, kondom itu hanya mampu membungkus ketat setengah saja dari batang penisnya yang panjang.

Thomas jadi was-was melihat penisnya terbungkus oleh kondom itu dan bergidik merasakan kuatnya cengkeraman karet KB itu pada disekeliling setengah bagian atas dari batang penisnya.

“Mam…?!”, kata Thomas cemas meminta penjelasan pada ibunya.

Glena tersenyum atas kekhawatiran anaknya itu yang baru pertama kalinya melihat kondom bahkan baru pertama kalinya penisnya dipasangi kondom!

“Percayalah pada mama, memang untuk pertama kalinya kau akan merasa risih memakainya… tapi nanti… akan terbiasa…”. Tertegun sesaat Glena mendengar perkataannya sendiri, ‘Apakah… aku akan sering melakukan ini bersamanya?’. Glena tidak bisa menjawabnya.

Dilihatnya wajah anaknya masih penuh dengan kebimbangan. Glena membujuk anaknya itu, “Bukankah kau, beberapa hari yang lalu ingin memasukkan penismu… kedalam… vagina mama? Inilah yang disebut kondom… dan itu baik dan perlu dipakai… kalau tidak… kamu akan membuat bakal adikmu sendiri… didalam perut mama”.

“Ohhh…”, jawab Thomas yang rasa khawatirnya mulai sirna.
“Tapi… apa be…”.

Langsung saja Glena memotong kata-kata anaknya itu.

“Dengan kondom ini kau boleh melakukan seperti apa yang ingin kau lakukan dulu, mengenai caranya nanti mama akan memberitahukanmu…”, jawab Glena tak sabar, hatinya mulai deg-degan karena ini juga merupakan pengalaman pertama baginya.

Mata Thomas jadi bersinar dengan antusias dia diam menunggu instruksi selanjutnya dari mamanya yang cantik.

Secepat kilat Glena melucuti sendiri seluruh pakaiannya yang dikenakannya, terlihatlah olehku didalam sana… dua insan bertelanjang bulat yang berbeda gender… ibu dan anak kandungnya sendiri…

Langsung saja Glena naik keatas tempat tidur, merebahkan dirinya dengan posisi terlentang, berbaring disamping anaknya yang sudah telentang sedari tadi. Ditariknya tubuh anaknya keatas menaiki tubuhnya dengan posisi tengkurap dan mendorong sedikit badan anaknya keatas. Thomas yang cerdas paham apa yang diinginkan ibunya.

Thomas mulai bertumpu pada kedua lutut dan kedua telapak tangannya, dia melihat kebawah kearah penisnya yang berayun tegang.

Tangan kanan Glena menjulur kebawah dan langsung menangkap batang penis yang panjang itu, menggesek-gesekkan palkon-nya pada sepanjang bibir memeknya, keatas dan kebawah.

Kadang tubuh Glena tersentak-sentak sendiri ketika palkon besar anaknya itu mengenai dan menggesek clitoris-nya yang sudah membengkak dikarenakan seantero tubuhnya sudah dirundung gairah seks yang makin lama semakin besar.

Nafsu liar dan birahi sumbang sudah menyelimuti kedua insan itu.
Tak tahan sudah, Glena melingkari kedua kakinya pada tubuh kecil Thomas serta menuntun palkon anaknya memasuki gerbang lubang vaginanya…

Dengan dorongan pinggul Thomas sendiri dan tekanan kebawah oleh kaki Glena pada bokong anaknya serta hentakan keatas pinggul Glena… tanpa ampun lagi… palkon besar milik anaknya menerobos masuk kedalam lubang nikmat vaginanya.

<Bleeesss…!>

“Oooh…! OMG…! Oooh… Thooom…!”, tanpa sadar Glena mendesah kencang, seketika itu juga dia mendapatkan orgasme yang sangat hebat… berkali-kali cairan nikmatnya menyemprot-nyemprot keluar membasahi sekujur batang panjang penis Thomas… palkon-nya sudah berada didepan ‘pintu masuk’ rahimnya… seakan ingin melongok kedalam dimana ketika saat itu dia masih berbentuk embryo, bergelung dan bertumbuh semakin sempurna selama kurun waktu 9 bulan 10 hari…

Cepat dipeluk erat tubuh kecil anaknya, dadanya yang empuk tapi montok itu sebentar-sebentar menekan semakin ketat pada dada anaknya sesuai irama debaran napasnya yang masih bergemuruh… otot-otot memeknya masih kencang berdenyut-denyut… mengulas-ulas batang panjang penis anaknya…

Sedang keadaan Thomas saat itu… matanya merem-melek merasa keenakan… sekilas pikiran nakal muncul didalam benaknya yang cerdas itu… ‘Enaknyaaa… begini rasanya… membuat adik… seandainya saja…’. Dirasakannya penisnya bagaikan diemut-emut oleh denyutan kencang vagina ibunya. Teringat dia sensasi enak yang dirasakannya ketika mulut ibunya melakukan BJ pada penisnya beberapa hari yang lalu… pikirnya… kalau enaknya seperti ini seharusnya… sudah sedari tadi penisnya mengeluarkan cairan putih itu…

Cengkeraman kuat dari karet KB yang dipasangkan pada penisnya, dirasakan olehnya sangat mengganggu… mencegah dia mencapai titik puncaknya… seakan menutup jalan keluar jalur untuk ‘cairan putih’-nya lewat yang biasanya kemudian menyemprot keluar dari ujung penisnya…

Memang Glena oleh karena rasa malunya, terburu-buru sewaktu berada di apotik kemarin tanpa berbincang-bincang dahulu dengan wanita yang melayani bagian penjualan bebas, langsung saja menunjuk kotak merah metalik yang berwarna menyolok yang berisi setengah lusin kondom… berukuran M (Medium) yang pas sesuai sebenarnya dengan ukuran penisku. Seharusnya dia memilih kondom yang berukuran XL (eXtra Large).

Akibatnya dengan memasangkan kondom itu pada penis besar dan panjang milik anaknya, sama saja dia memasangkan sejenis ‘Velcro cock ring’ yang biasa digunakan oleh para penikmat ML pro. Ring yang dimaksud berguna untuk mencegah penis seseorang kembali menjadi loyo yang sudah membesar karena masuknya sejumlah darah yang menyebabkan penis itu menjadi besar dan tegang mengeras. Cairan darah itu dicegah mengalir keluar dari penis oleh cekalan kuat ring itu. Bahkan seandainya oleh karena kuatnya tekanan air mani sempat juga menyemprot keluar… penis itu takkan kembali melunak seperti pada kondisi normalnya, sampai ring itu dilepas kembali.

Aku yang menjadi saksi persenggamaan incest itu sudah sedari tadi membongkar ‘muatan’-ku sendiri tanpa dapat kukontrol lagi.

‘Muatan’-ku itu jatuh berserakan diatas karpet, mudah-mudahan Glena tidak memperhatikannya… akan kubersihkan kembali nanti kalau… situasi sudah aman dan terkendali lagi, he-he-he…

Glena mencium mesra rambut kepala Thomas, anaknya itu. Selisih tinggi badan mereka cukup besar. Tapi bagi Thomas sih… nyaman-nyaman saja! Bagaimana tidak, menelungkup diatas tubuh ibunya dengan kepalanya berbantalkan payudara ibunya yang montok dan empuk…

Terkesiap Glena menyadari bahwa anaknya belum mendapatkan orgasmenya. Batang penis besarnya masih terasa sangat keras… keras sekali bersarang disepanjang lorong vaginanya. ‘Sampai sebegitu parahnya kah kelainan pada penis Thomas?’, pikirnya.

Glena mengusap-usap lembut punggung anaknya sambil berbisik,

“Puas… Thom…?”.

Yang ditanya tidak menjawab eh… malah menarik pinggulnya keatas lalu menghunjamkan kembali penis besarnya masuk kembali kedalam gua nikmat vagina ibunya sendiri… secara alamiah Thomas mulai melakukan pompaan-pompaan seksualnya yang makin lama semakin cepat saja…

Terguncang-guncang tubuh Glena merasakan rojokan palkon anaknya didalam vaginanya yang bergerak keluar-masuk… terus… secara beruntun. Terpancing kembali birahi Glena yang tadi sempat mereda.

“Oooh… nikmatnya…! Sssh… nnng… sssh…”, Glena mendesah lirih.
“Kuat sekali kau nak…! OMG…!”, sudah tidak bisa berpikir Glena menghadapi terjangan-terjangan nikmat palkon anaknya itu yang mengaduk-aduk seisi lorong dalam vaginanya, mengantarkannya sampai belasan kali ber-orgasme!

Sebenarnya persenggamaan incest ini sama saja dengan yang dilakukan oleh pasangan-pasangan incest lainnya yang sering terjadi dan tak pernah diketahui langsung oleh orang-orang disekitar tempat tinggal mereka…

Yang sekarang berlangsung adalah penis panjang Thomas yang sedang tegang… yang menjadi sangat garang… Thomas hanya ingin menjemput orgasmenya yang tertinggal… yang ditunda oleh salah ukuran kondom yang dikenakan oleh ibu kandungnya sendiri.

Itulah ‘ganjaran’ (atau ‘hadiah’ ya?) yang harus dialami Glena
karena kekeliruannya.

Untung sampai juga tujuan yang dikehendaki Thomas, dengan hentakan keras pinggulnya dihunjamkanya penisnya keras-keras kedalam vaginanya ibunya… air maninya menyemprot deras… banyak sekali… mendorong sedikit posisi kondom yang dipakainya.

Terkapar sudah mereka berdua yang sekarang bermandikan oleh keringat mereka sendiri.

Pikiran jernih mereka sudah kembali dari petualangannya, masuk lagi ke kepala mereka masing-masing. Dengan lunglai dan lemah Thomas beranjak dari atas tubuh ibunya yang seksi itu lalu duduk
disamping ibunya yang masih lemah berbaring telentang. Sambil menunjuk kearah penisnya yang ujung masih terbalut condom yang sudah ‘terpakai’, bertanya dengan polos pada ibunya, “Apa yang akan terjadi kalau aku tidak memakainya?”.

Glena yang stamina tubuhnya belum kembali utuh, menjawabnya lemah, “Kau akan jadi seorang kakak… bagi anakmu sendiri!”.

“Tapi mama adalah… ibuku sendiri! Mana mungkin bisa aku membuat mama menjadi hamil?!’, protes Thomas.
“Oh yaaa… kau bisa! Tubuhmu sudah memproduksi sperma.

Dan sperma bisa membuat mama… hamil! Terserah dari mana asalnya sperma itu datang!”, kata Glena memberitahu anaknya.

Aku yang menyaksikan perbincangan mereka, buru-buru kembali kekamar dan langsung kekamar mandi untuk memberihkan diriku. Setelah itu aku naik keatas tempat tidur merebahkan tubuhku berbaring dan biasa… sambil memegang buku bacaan.

Glena kembali kekamar kami, naik keatas tempat tidur dan tak bergairah untuk ML denganku, langsung berbaring untuk tidur.

Dia masih belum mengetahui bahwa aku selalu ‘memantau’ seluruh kegiatannya, apa yang dilakukan bersama Thomas, anak kami.

Affair Glena dengan Thomas, anak kandungnya sendiri, semakin hari semakin berani saja. Mereka selalu ML dengan sedikitnya 3 macam gaya dan selalu saja Thomas membuatnya mengalami orgasme
minimal sampai 2 kali.

Beberapa hari kemudian…

Pernah pada suatu malam mereka mendapatkan kotak kondom itu kosong karena isinya sudah habis terpakai semuanya. Glena memberitahu anaknya bahwa malam itu dia terpaksa hanya bisa memberikan BJ saja. Thomas tampaknya sangat kecewa sekali mendengarkan itu.

Malam itu Glena melakukan BJ pada anaknya yang sudah bertelanjang bulat sedangkan Glena mengenakan gaun malam dan masih tetap mengenakan CD-nya. Sementara Glena melakukan BJ, Thomas yang berbaring telentang, merasa tidak puas lalu meraba-raba buahdada dan memilin-milin putingnya yang masih terbalut dengan gaun malam, bergantian yang kiri dan kanan.

Glena memutarkan sedikit pinggulnya agar tangan Thomas bisa mencapai dan mengusap-ngusap memeknya yang masih terbalut CD. Tahu bahwa CD itu sudah sangat lembab oleh cairan nikmat ibunya yang keluar dari memeknya yang sudah dinaungi nafsu dan birahi yang makin meninggi, Thomas memberitahu ibunya, “Mam… mama sudah sangat basah…! Bolehkah aku melakukannya… sedikit saja, aku suka sekali menyetubuhi mama…!

Tapi Glena diam saja, tidak memberinya respon sama sekali dan masih tetap saja melakukan BJ. Thomas merengek-rengek lagi pada ibunya

askan CD-nya agar anaknya bisa leluasa bermain-main dengan vaginanya.

Glena mendesah nikmat oleh ulah tangan anaknya. Sesungguhnya Glena sangat berkeinginan bersetubuh lagi dengan anaknya.

Thomas merengek lagi pada ibunya,

“Mam… aku berjanji akan mencabut penisku sebelum cairan putih ohhh… maksudku sebelum spermaku menyemprot… percayalah… jadi tak akan membuat mama hamil…”.

Glena berpura-pura tidak mendengar rengekan anaknya itu, tetap melakukan BJ. Tapi akhirnya penolakannya sirna juga, saat anaknya mengisap puting dan meremas-remas buahdadanya yang semok sembari memeluk dirinya.

Glena sudah tidak mampu bertahan lagi… dia melucuti sendiri gaun malam beserta CD-nya dan berbaring terlentang disamping anaknya yang juga berbaring telentang.

“Janji pada mama… kau akan mencabut penismu lebih awal… jadi tidak ada setetespun sperma-mu bisa masuk kedalam vagina mama… ingat itu…!”.
“Pasti mam… aku hanya ingin ngentotin mama saja…”.

Aku yang sedang ‘memantau’ terkejut mendengarkan Thomas berkata vulgar.

Thomas dengan cepat menindih tubuh indah ibunya dan langsung menyetubuhinya.

“Mam… sungguh nikmat sekali rasanya… tanpa kondom…!”.
“Mama tahu…”, Glena bersuara mendesah.
“Nikmat sekali…! Jangan berhenti…! Oooh… sungguh niiik-maaat…!”.

Thomas tatap menggenjot tubuh ibunya yang menggairahkan itu. Penis besar keluar-masuk vagina ibunya dengan cepat.

Palkon-nya yang mengaduk-aduk dalam memeknya membuat Glena lupa diri keenakan. Hilang sudah batas tipis selembar karet sintetis, menjadikan dua tubuh itu menjadi satu secara utuh…!

Thomas yang merasa sangat nikmat hampir lupa akan janjinya dengan mamanya, buru-buru menarik keluar penis panjang dari vagina ibunya tapi sayang semprotan awal dari orgasme-nya sempat juga menyelinap masuk kedalam vagina ibunya. Selebihnya dia tumpahkan diatas jembut ibunya yang sudah digunting pendek tertata rapi dan berwarna pirang dan diatas perut ibunya yang rata yang dihiasi pusarnya yang indah.

Aku melihat kejadian itu, tercengang heran karena saking banyak sperma-nya tersemprot keluar. Belum pernah sekalipun sebelumnya aku melihat juga pada BF yang sering kutonton…!

Glena melingkari pinggang anaknya dengan kedua kakinya dan menekan tubuh anaknya merapat dan dengan cepat menggenggamkan tangannya penis panjang anaknya yang masih tegang itu dan…
menuntun masuk kembali kedalam vagina.

“Itu… OK tidak jadi masaalah”.

Thomas meneruskan semprotan sperma-nya kedalam vagina ibunya yang masih saja berdenyut-denyut kencang, tak lama tubuhnya rubuh menindih tubuh indah ibunya.

Kebetulan sekali pada minggu berikutnya, Glena mendapatkan menstruasi yang ditunggu-tunggunya… dia tidak hamil… Saking gembiranya, Glena berteriak dari dalam kamar mandi memberitahuku. Tapi akhir tersadar sendiri bahwa aku ‘tidak tahu’ urusannya dengan anak kandungnya itu.

Baca Juga Cerita Seks

ML incest diantara ibu dan anak itu masih berlangsung untuk berbulan-bulan berikutnya. Kadang memakai kondom, kadang tidak.

Thomas sudah tidak mempunyai masaalah lagi dengan penis besarnya.

Pernah suatu malam tatkala mereka berdua dikamar itu, Glena memberitahu Thomas bahwa anaknya itu belum cukup umur untuk tubuhnya menghasilkan sperma yang bisa membuatnya hamil.

Aku juga tidak terlalu mengeluh tentang semua yang telah terjadi. Aku juga sering di-‘service’ oleh isteri cantikku yang tercinta.

Kelak ketika Thomas sudah berumur 13 tahun telah terjadi sesuatu diantara mereka. Thomas membuat ibu kandungnya… hamil!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *